Vokatif Bahasa Prancis dalam Percakapan Facebook

 
Vokatif Bahasa Prancis dalam Percakapan Facebook
                                    Fierenziana Getruida Junus
                                          Universitas Indonesia
                                         fierenziana@gmail.com

Abstract
In communicating, the way and the content of the conversation are two things inseparable. The speakers
should be good to package the message with considering the relationship with their interlocutor. Wardaugh
(2010: 274) states that the things should be considered in maintaining the communication are: pronominal
choice, the use of naming and address terms and the employment of politeness markers.
       This article based on a research about vocative in French Facebook conversation (FFC). According
to Biber et al (1999: 1108), vocative is an expression used as the address by the participant in the
conversation. They are important in defining and maintaining sosial relationships between participants.
There are several theories of some scholars, such as Arnold Zwicky (1974), Friederike Braun (1988) and
Douglas Biber et al (1999), that are used to analyze the data,
       The objective of this article is to categorize vocatives used in FFC. There are about 555 files of FFC
used as corpus. The result shows that almost all the vocative categories have been found in FFC, with
several variations of form, formation and meaning. The use of vocative in spoken conversations and FB
conversations are the same, but in FB conversation, there is another category namely “full account name”,
which also has a different function with vocative function in spoken conversations. This category become
a typical vocative category of Facebook conversation.
Key words : address, French vocative, Facebook, full account name, hypocorism.

1.   Pendahuluan

Dalam berkomunikasi baik cara penyampaian maupun isi percakapan menjadi dua hal yang sulit
dipisahkan. Setiap penutur harus mampu mengemas pesan yang disampaikan dengan
mempertimbangkan hubungannya dengan lawan tuturnya. Wardaugh (2010, hal. 274) mengatakan
bahwa yang harus dipertimbangkan dalam membangun komunikasi ada 3 hal yaitu : pemilihan
pronominal, penggunaan nama dan sapaan, dan penggunaan penanda kesopanan. Vokatif yang
merupakan bagian dari sapaan menjadi hal yang penting dalam membangun percakapan dan
menjaga komunikasi dengan penutur lain (Zago, 2015).
      Perkembangan teknologi selama lebih dari satu dasa warsa ini, memengaruhi perkembangan
komunikasi manusia. Model komunikasi manusia berubah, dari yang sifatnya tatap muka menjadi
kegiatan yang berhadapan dengan perangkat teknologi, dari yang bersifat lisan menjadi tulisan.
Percakapan tulisan pun dikemas sedemikian rupa sehingga menghidupkan suasana bercakap
secara lisan oleh para penutur (Junus & Laksman-Huntley, 2016). Perkembangan teknologi ini
menurut Watt (2010) berdampak pada perubahan bahasa.
      Sebagai salah satu media sosial yang sangat popular belakangan ini, Facebook (FB) menjadi
media komunikasi yang digunakan oleh banyak masyarakat dunia. Menurut data statistik
                                                                                                        103
(http://expandedramblings.com/index.php/by-the-numbers-17-amazing-facebook-stats/) hingga
April 2016 pengguna FB mencapai 1,65 milyar pengguna aktif per bulan (Monthly Active User).
Jauh melampaui media sosial lainnya. Bahkan tercatat bahwa tersedia lebih dari 70 bahasa pada
situs tersebut (http://www.statisticbrain.com/). FB menjadi ladang penelitian bahasa yang menarik
mengingat belum banyak yang menjadikannya sebagai objek penelitian penggunaan bahasa. Salah
satu yang menarik untuk diteliti menurut penulis adalah vokatif yang sering digunakan oleh
pengguna FB dalam percakapan mereka. Penelitian yang penulis lakukan adalah terutama
mengenai bentuk dan proses pembentukan vokatif serta makna dan fungsinya.
       Sumber data penelitian ini diambil dari laman FB (http: //www.facebook.com/). Analisis
dilakukan dengan menggunakan korpus data berupa 555 fail yang berisi percakapan para pengguna
FB.

2. Apakah Vokatif itu?
Vokatif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah panggilan, ajakan atau seruan. Vokatif
menurut Karl Bühler merupakan salah satu fungsi bahasa dari tiga fungsi bahasa yang
dikemukakannya dalam organon model yaitu appelfunktion, selain fungsi bahasa ekspresif dan
fungsi bahasa referensial. Fungsi bahasa vokatif atau biasa juga disebut fungsi konatif merupakan
fungsi bahasa untuk menarik perhatian lawan tutur dan menentukan perilakunya (Parpalea, 2011).
Pembahasan mengenai vokatif sebagai salah satu fungsi bahasa merupakan pembahasan yang
sangat luas. Namun penulis mendasarkan penelitian ini pada pendapat Schaden (2010) yang
mengatakan bahwa vokatif dalam arti sempit merupakan frasa nomina yang mengidentifkasi atau
menggambarkan lawan tutur kepada siapa ujaran ditujukan.
      Pada bagian berikut akan dipaparkan penelitian vokatif yang dilakukan beberapa ahli bahasa
yaitu Arnold Zwicky (1974), Friederike Braun (1988), Douglas Biber, Stig Johanson, Geoffrey
Leech, Susan Conrad dan Edward Finnegan (1999).

2.1 Menurut Arnold Zwicky
Dalam artikelnya Hey What’syourname! (Zwicky, 1974), Zwicky mengatakan bahwa vokatif
adalah sebuah unsur yang terpisah dalam sebuah kalimat, biasanya dipisahkan oleh intonasi dan
bukan merupakan penjelasan dari kata kerja dalam kalimat tersebut. Dalam artikelnya Zwicky
membedakan frasa nomina yang merupakan vokatif dan frasa nomina yang merupakan referensi.
Menurut Zwicky vokatif merujuk langsung pada lawan tutur. Misalnya dalam kalimat “Jacquie,
your grammar leaks”. Jacquie merupakan vokatif berbeda dengan kalimat “I’m going to tell
Jacquie that her grammar leaks” di mana Jacquie hanya berupa referensi dan merupakan
penjelasan dari verba tell.
      Vokatif menurut Zwicky memiliki 2 fungsi yaitu dapat berupa panggilan ataupun sapaan.
Panggilan ditujukan untuk menarik perhatian lawan tutur, sapaan untuk membangun atau
menekankan kontak antara penutur dan lawan tutur. Keduanya dapat ditemukan dalam bentuk
selain frasa nominal dan juga dengan cara yang non-linguistik. Kita dapat menarik perhatian
seseorang dengan menggunakan kata ‘hey’ misalnya atau dengan sentuhan di bahu atau dengan
sebuah lambaian.
      Zwicky membuat beberapa kategori mengenai vokatif yaitu:
                                            104
1) Vokatif yang menggunakan nama diri dan kata benda yang digunakan untuk memanggil atau
    yang disebutnya dengan pseudo proper name atau nama diri semu seperti Blondie (untuk yang
    berambut pirang) atau Joe (untuk tentara), dll. Ada 9 kategori vokatif yang menggunakan
    nama diri menurut Zwicky yaitu : (a) Gelar + nama belakang, misalnya Prof Llewellyn; (b)
    Prefiks + Nama belakang misalnya Mr./Ms./Mrs/ Miss Pandit; (c) Gelar kekeluargaan
    (Kintitle) + Nama depan, seperti Uncle Robert, Uncle Bob; (d) Nama depan, seperti Margaret,
    Peggy ; (e) Gelar kekeluargaan + Nama belakang, misalnya Grandmother Rice, Grandma
    Myshkin (f) Gelar + Nama depan seperti Lady Jane, Reverend Bob; (g) Prefiks + nama depan,
    misalnya Mr. Albert, Miss Susan; (h) Nama depan + nama belakang, misalnya Herbert
    Hanson, Herbie Hanson; (i) Nama belakang, misalnya Abercrombie.
2) Kintitle atau gelar yang menjelaskan hubungan kekeluargaan, seperti grandma, brother, dll
3) Vokatif dapat saja berupa kalimat lengkap dengan menggunakan pronominal you seperti “You
    with the sweater on, move about a foot to the left!”
4) Vokatif dapat berupa ciri yang bersifat rasial atau kelompok bangsa tertentu seperti Jap
    (Jepang), Niger (Nigeria), dll.
5) Vokatif dapat berupa kata sifat yang menunjukkan ciri seseorang seperti slim, skinny, dll.
6) Vokatif yang menjelaskan pekerjaan seperti waiter, driver, cabie, dll.
7) Vokatif juga dapat dibedakan dalam penggunaan kata-kata sosial tertentu yang menunjukkan
    interaksi yang terjadi dalam percakapan misalnya,
   - nilai positif atau negatif
   - sopan atau tidak sopan
   - tingkat keformalan, dari yang cukup formal hingga yang bersifat casual
   - menyangkut penilaian diri terhadap lawan tutur : superior atau inferior ataupun setara
   - tingkat keintiman dari yang sangat dekat hingga yang sangat berjarak
8) Berdasarkan ciri atau identitas lawan tutur :
   - Jenis kelamin, seperti son, daughter, dll.
   - Usia, seperti grandma,young man, dll
   - Pekerjaan seperti, doc, cabbie, dll
   - Karakter fisik seperti skinny, carot-top, dll
   - Karakter pribadi, seperti creep, dope, dll
   - Hubungan keluarga father, uncle, dll
   - Status pernikahan Miss Fonda, Mrs Hayden.
9) Berdasarkan kelompok dari lawan tutur (klas sosial, sub kultur dan dialek), misalnya Mary,
    Grace, Ella yang digunakan dalam komunitas gay.

Menurut Zwicky vokatif dalam bahasa Inggris hampir tidak pernah netral, vokatif
mengekspresikan atau menunjukkan kesopanan, formalitas, status, keintiman atau peran hubungan
dan juga menjelaskan siapa pembicara.

                                             105
2.2 Friederike Braun
Dalam bukunya yang berjudul Terms of Address Braun (1988) tidak menyebut secara eksplisit
tentang vokatif. Ia lebih banyak membahas mengenai address atau kata sapaan dan berbagai hal
mengenai sapaan tersebut. Dalam bukunya Braun membagi bentuk sapaan dalam tiga kategori
gramatikal yaitu pronomina, verba dan nomina. Kata sapaan berupa pronomina terbagi menjadi
sapaan yang sopan bentuk V (V form) dan yang familiar atau akrab yaitu bentuk T (T form).
Sementara untuk verba adalah semua bentuk sapaan yang sudah ada dalam verba sebuah kalimat.
Kasus ini hanya dapat terjadi pada bahasa tertentu seperti bahasa Prancis. Ketika seseorang
mengucapkan “Vas y” ‘pergilah’ maka akan diketahui bahwa penutur menggunakan sapaan tu
kepada lawan tuturnya dengan adanya konjugasi verba aller untuk orang kedua tunggal tu yaitu
vas. Sedangkan untuk nomina, Braun mengklasifikasikannya dalam beberapa kategori, dari
pembagian inilah penulis mengambil kategori nominal ini sebagai vokatif merujuk kepada
berbagai teori yang sudah penulis bahas di atas ataupun yang akan penulis bahas berikutnya.
Pembagian kategori yang penulis masukan dalam kategori vokatif adalah :
 1) Nama yang berupa sapaan dalam bentuk nomina yang ada dalam semua jenis bahasa. Dapat
     berupa nama diri, bergantung budaya masing-masing;
 2) Kinship term atau sapaan berupa hubungan kekerabatan yang digunakan oleh dan untuk
     mereka yang memiliki hubungan darah. Ketika sapaan ini digunakan untuk menyapa
     seseorang yang tidak mempunyai hubungan darah dengan penutur ini disebut dengan
     hubungan kekerabatan fiktif.
 3) Dalam banyak bahasa ada bentuk-bentuk sapaan yang sama dengan dalam bahasa Inggris
     seperti Mr/Mrs, atau bahasa Jerman Herr/Frau, Polandia pan/pani, etc. Semua ini merupakan
     bentuk umum yang tidak harus dilihat sebagai gelar khusus.
 4) Gelar merupakan sesuatu yang diberikan atau dicapai dengan prestasi (dokter, mayor) atau
     yang diwariskan (seperti duke, count).
 5) Nomina abstrak yaitu bentuk sapaan yang merujuk pada kualitas abstrak dari lawan tutur
     seperti (Your Excelency, Your Grace, etc.)
 6) Sapaan dengan menggunakan jenis pekerjaan misalnya pelayan, supir, dsb. Terkadang
     dikombinasikan dengan Mr/Mrs bergantung aturan sapaan penghormatan yang berlaku.
 7) Kata-kata khusus untuk hubungan tertentu digunakan sebagai bentuk sapaan dalam berbagai
     bahasa. Seperti bahasa Turki arkadas ‘teman’, Jerman college ‘kolega’, Arab dჳa:ri
     ‘tetangga’.
 8) Ungkapan kasih sayang digunakan untuk menyapa anak kecil atau orang kepada siapa
     seseorang merasa dekat, hampir sering yang digunakan merupakan nomina yang dapat
     digunakan sebagai bentuk sapaan..
 9) Beberapa bentuk sapaan menentukan lawan bicara sebagai ayah, saudara laki-laki, istri, atau
     saudara perempuan dari seseorang yang lain lewat ungkapan hubugan lawan bicara kepada
     orang lain. Misalnya dalam bahasa Arab abu Ali ‘ayahnya Ali’, bint Ahmed ‘anak perempuan

                                             106
Ahmed’, dsb. Atau menggunakan bentuk seperti ‘Ayah Ali’ untuk menghindari penggunaan
    nama diri lawan bicara.
Perbedaan antara Zwicky dan Braun adalah dalam hal gelar. Bagi Braun gelar adalah sesuatu yang
diberikan atas pencapaian ataupun warisan. Namun Zwicky bahkan menganggap panggilan yang
berhubungan dengan hubungan kekerabatan sebai gelar (kintitle). Selain itu Braun menambahkan
beberapa kategori yang tidak disebutkan oleh Zwicky karena kasus yang dibahas oleh Zwicky
hanya kasus bahasa Inggris sementara kasus yang diteliti oleh Braun mencakup bahasa lain selain
bahasa Inggris sehingga banyak fenomena lain yang muncul.

2.3 Menurut Douglas Biber dkk
Vokatif, menurut Biber dkk, merupakan bagian dari bentuk sapaan. Vokatif penting dalam
menentukan dan membangun hunbungan antara partisipan dalam percakapan. Ada tiga fungsi
vokatif menurut Biber dkk (1999) yaitu : (a) menarik perhatian orang; (b) mengidentifikasikan
seseorang sebagai lawan tutur; (c) membangun dan memertahankan hubungan sosial. Posisi
vokatif dalam ujaran menentukan fungsi apa yang dijalankan oleh vokatif tersebut. Jika vokatif
berada pada awal ujaran maka fungsi (a) dan (b) yang sedang dijalankannya. Sementara jika
vokatif terletak pada akhir ujaran maka fungsi yang dijalankannya adalah fungsi (b) dan (c).
Biber dkk membuat kategori vokatif yang merepresentasikan hubungan para partisipan dalam
percakapan dari yang sangat familiar atau intim sampai pada yang paling berjarak dan respektif,
sebagai berikut :
1) Endearment atau ungkapan kasih sayang seperti baby, (my) darling, (my) dear, dll
2) Family terms atau penggunaan istilah hubungan kekeluargaan. Seperti mummy, mum, mom,
    ma, dad,dll
3) Familiarizers atau panggilan untuk membangun hubungan yang akrab, seperti guy, bud, man,
    dll.
4) Familiarized first name atau proses mengakrabkan nama depan seperti Marj, Paulie, Jackie,
    dll.
5) First name in full atau dengan menggunakan nama depan secara lengkap, seperti Marjorie,
    Paul, Jason, dll
6) Title and surname atau gelar dan nama belakang, misalnya Mrs. John dan Mr Graham.
7) Honorifics atau panggilan hormat seperti, sir dan madam
8) Others, lainnya termasuk julukan atau nickname seprti, boy, red dog, lazy, dll

Dibandingkan dengan pemaparan yang dilakukan Zwicky dan Braun, vokatif yang dirumuskan
Biber dkk sedikit lebih sederhana namun hampir mencakup semua yang diungkapkan kedua ahli
sebelumnya. Tiga karya mereka membuat pengategorian yang kurang lebih saling beririsan,
meskipun dalam penyebutan ada perbedaan. Perbedaan yang paling mencolok dari ketiganya
adalah penyebutan gelar. Biber menyebut Mr/Mrs sebagai gelar, sedangkan Braun tidak
menganggapnya sebagai gelar melainkan sebagai sebutan yang umum, sementara Zwicky
menyebutnya sebagai prefiks. Dalam hal ini penulis lebih setuju dengan Braun yang mengatakan
                                             107
bahwa gelar adalah sesuatu yang diperoleh lewat prestasi ataupun diwariskan, sementara untuk
Mr/Mrs atau yang sejenis dengan itu penulis sepakat dengan Zwicky yang menyebutnya sebagai
prefiks.

3. Vokatif dalam Facebook
Dalam mengidentifikasi vokatif yang ada dalam percakapan Facebook berbahasa Prancis, penulis
menggunakan istilah yang dikemukakan oleh ketiga literatur di atas. Penetapan istilah yang
digunakan berikut didasarkan pada kesesuaian atau ketepatan penjelasannya dengan data yang
ditemukan dalam penelitian. Nama pemilik akun FB dalam data akan disingkat menjadi inisial
untuk menjaga kerahasiaan identitas pemilik akun, kecuali dalam kasus dimana penyebutan nama
tersebut sulit dihindari untuk kepentingan analisis.

3.1 Terms of endearment
Terms of endearment atau sapaan yang memperlihatkan rasa kasih sayang biasanya digunakan
untuk orang yang sudah sangat akrab. Biasanya menandai ikatan kedekatan dan perasaan antara
anggota keluarga yang dekat, pasangan seksual ataupun orang yang disukai (Biber, 1999). Dalam
korpus ditemukan ada 14 vokatif yang dikategorikan lagi menjadi
1) Menggunakan nama hewan. Panggilan dengan menggunakan kata yang merujuk pada nama
    hewan ini dilakukan untuk menyatakan rasa sayang penutur kepada lawan tutur. Misalnya
    poule ‘ayam betina’ atau biche ‘rusa betina’ yang juga ditambahkan sufiks         -ette yang
    memberi makna diminutif menjadi poulette ‘ayam betina kecil’ atau bichette ‘rusa betina
    kecil’. Bahkan untuk biche silaba awal direduplikasi menjadi bibiche. Vokatif lain yang
    digunakan adalah loup ‘serigala’dan loulou. Menurut kamus daring NRTL secara etimologis
    loulou berasal dari reduplikasi kata loup yang kemudian menjadi sebutan untuk sejenis anjing
    kecil. Vokatif ini digunakan juga bersama dengan posesif untuk orang pertama tunggal, yaitu
    ma poule, ma poulette, ma biche, ma bichette, ma bibiche, mon loup, mon loulou, dan ma
    puce. Ma poule, ma poulette (1) digunakan hanya untuk lawan tutur perempuan dan lebih
    sering dilakukan oleh penutur perempuan. Sedangkan mon loup dan mon loulou (2), ma biche
    (3), dan ma puce (4) ditujukan baik kepada laki-laki maupun perempuan dan digunakan oleh
    baik penutur laki-laki maupun perempuan.
    (1) VQ (pr)        : a toi ossi poulette....                 ‘Kau juga, sayang’
         PS (pr)       : merci ma poule....                      ‘Terimakasih, sayangku’
    (2) PAM (lk)       : Une porte de plus qui se ferme...[…]    ‘Satu pintu lagi tertutup ‘
         EC (pr)       : courage mon loulou[...]                 ‘Semangat, sayangku’
    (3) OC (lk)        : Bh moi j'ai pas retrouvé ..             ‘Saya tidak menemukannya’
         CB (pr)       : Ça viendra ma biche, […]                ‘Segera datang, sayangku’
     (4) AT (lk)       : je vais le defenser lol                 ‘Saya akan membelanya lol
                         et vous me manquer                       saya merindukan kalian’
         SFA (pr)      : tu viens quand tu veux ma puce          ‘datanglah kapan kau mau
         sayangku’
                                              108
2) Menggunakan kata benda abstrak seperti amour ‘cinta’, amoureux ‘pencinta’, dan cheri/e
   ’sayang’. Lebih sering ditambahkan dengan posesif orang pertama tunggal. Vokatif ini
   digunakan baik oleh penutur perempuan maupun laki-laki kepada lawan tutur laki-laki dan
   perempuan.Biasanya digunakan bersama posesif untuk orang pertama. Seperti berikut :
   (5) TD (lk) :    Mon amour je t' !                  ‘Sayangku, aku mencintaimu’
       LTTD (pr) : Je t'aime aussi mon amour          ‘Aku mencintaimu juga, sayangku’
   (6) CR     :     trop belle ma Cherie              ‘Cantik sekali, sayangku’
   (7) AE     :     Au top mon amoureux               ‘Keren, sayangku’

3) Kata benda lain yang digunakan adalah coeur ‘jantung’ dan bébé ‘bayi’ beserta variannya
   berupa abreviasi yaitu bb ataupun penambahan posesif untuk orang pertama tunggal.
   Digunakan oleh penutur baik laki-laki maupun perempuan kepada lawan tutur baik laki-laki
   maupun perempuan
   (8) DP     : Moi aussi je t'aime pour toujour    ‘Saya juga mencintaimu selamanya,
                mon coeur                            sayangku
   (9) LP : Pv bébé                                 ‘Jalur pribadi, sayang’
       CD : Ok bébé                                 ‘ok, sayang’
4) Menggunakan kata yang merujuk hubungan keluarga seperti nenette dan pepette.
   Menurut kamus daring Reverso, nenette dalam bahasa yang familiar berarti fille ’anak
   perempuan’ atau femme ‘perempuan dewasa’. Menurut kamus daring CNRTL(Centre
   National de Ressources Textuelles et Lexicales) kata nenette merujuk pada dua kemungkinan.
   Yang pertama berasal dari kata comprenette, yang merujuk pada ‘kepala’, sementara
   kemungkinan kedua adalah berasal dari kata nene yang merupakan bahasa kanak-kanak untuk
   memanggil ibu ataupun pengasuh mereka. Jika dilihat kedua kemungkinan tersebut, maka
   menurut penulis kemungkinan kedualah yang paling mendekati. Kata tersebut berasal dari
   kata nene yang kemudian diberi sufiks –ette yang memberi makna diminutif. Sementara untuk
   kata pepette, menurut kamus daring Reverso berasal dari pépée yang berasal dari reduplikasi
   hasil penggalan silaba akhir (apokop) kata poupée ‘boneka’. Kata tersebut kemudian
   mendapatkan sufiks –ette menjadi pepette yang memberikan makna diminutif. Vokatif
   nenette dan pepette ini ditujukan kepada anak perempuan atau perempuan yang lebih muda
   dari penutur. Keduanya juga digunakan dengan posesif untuk orang pertama tunggal, seperti
   dalam kalimat berikut :
    (10) ST (pr)       : Trop belle ma nenette              ‘cantik sekali, sayang ‘
         JA (pr)       : Merci moi aussi                    ‘terima kasih, saya juga’
     (11) CT (pr)      : trop belle aussi ma pepette        ‘cantik sekali, sayang’
         LTTD(pr)      : Merci tata                         ‘terima kasih, tante’
   Dalam pembentukan vokatif untuk menunjukkan rasa sayang, yang sering terjadi adalah
   hypocorism atau pembentukan panggilan dengan mengikuti cara anak-anak mengucapkan.
   Seperti yang terjadi pada beberapa contoh di atas misalnya nenette, pepette, bibiche, dst.
                                             109
3.2 Istilah kekerabatan
Vokatif ini digunakan oleh penutur yang memiliki hubungan keluarga atau kekerabatan dengan
lawan tutur. Dalam data ditemukan 21 jenis vokatif untuk kategori ini. Yaitu mama ‘ibu’, papa
‘ayah’, fille ‘anak perempuan, fils ‘anak laki-laki’, frère ‘saudara laki-laki’, sœur ‘saudara
perempuan’, gars ‘anak laki-laki’, mamie ‘nenek’, tonton ‘paman’, tata ‘bibik’, cousin ‘sepupu
laki-laki’, cousine ‘sepupu perempuan’, mari ‘suami’, neveu ‘keponakan laki-laki’, dan nice
‘keponakan perempuan’. Dengan varian lain seperti untuk frère terdapat varian seperti petit frère,
frero, dan frr atau soso sebagai varian dari sœur. Varian lain yaitu dengan menggunakan posesif
untuk orang pertama tunggal seperti mon frère, mon petit frère, mon frero, mon frr, mon neveu,
mon gars, dan mon mari ‘suamiku’. Yang menarik dari data ini adalah bahwa vokatif untuk mamie
‘nenek’ ditemukan sementara untuk papie ‘kakek’ tidak ditemukan, hal ini mungkin disebabkan
kurangnya lelaki usia lanjut yang menggunakan facebook atau mereka tidak berinteraksi dengan
cucu mereka di media sosial seperti FB.
1) Familiarizer atau istilah pergaulan yaitu vokatif yang digunakan untuk mengakrabkan
     hubungan antara penutur dan lawan tutur. Kata yang digunakan ada yang merupakan kata-
     kata yang digunakan dalam hubungan keluarga atau kekerabatan. Seperti frère ‘saudara laki-
     laki’, sœur ‘saudara perempuan’ atau dengan varian masing-masing seperti fréro, frr, atau
     soso. Kata lain yang digunakan adalah kata yang menunjukkan hubungan antara penutur dan
     lawanan tutur seperti ami/e, amie, copain,, copine dan variannya coco, camarade yang
     semuanya bermakna ‘teman’. Kata lain yang bermakna kurang lebih sama adalah pote ‘sobat’
     yang merupakan penggalan dari kata poteau ‘tiang’atau bisa juga merujuk pada betis. Kata
     ini merupakan argot yang digunakan sebagai panggilan pada pergaulan anak muda. Coco,
     camarade dan pote digunakan oleh penutur baik laki-laki maupun perempuan kepada lawan
     tutur baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu digunakan berdasarkan jenis kelamin dari
     setiap lawan tutur. Kesemua vokatif ini juga mendapatkan posesif seperti dalam kalimat di
     bawah ini :
     (12) AP : C bien min copain                     ‘Bagus, teman’
 ` (13) CBR : Je suis là en paix mon amie            ‘Saya dalam kedamaian, teman’
     (14) EC : Bonne anniversaire mon pote           ‘selamat ulang tahun, sobat’
     (15) RB : Oui Soso [,,,] après on nous          ‘oke, mbak […] setelah itu kita
                 parle de croyance pfff bisous        ngobrol tentang keyakinan mmmuah
     (16) MP : Felicitations coco                    ‘selamat, teman’
     (17) AL : Wesh ya quoi frere ?                  ‘Wasalam ada apa, teman?’
2) First name in full atau nama depan lengkap yang digunakan sebagai vokatif. Dalam korpus
     ditemukan data seperti Benoit, Arnaud, Mathilde, Melinda, Julie, Sylvain, dll. Ada juga
     vokatif yang menggunakan posesif seperti mon Jordan.
3) Familiarized first name atau perubahan nama depan. Untuk vokatif ini nama lawan tutur
     diubah oleh penutur dengan tujuan untuk mengakrabkan diri dengan lawan tutur. Dalam
     korpus data, nama depan mengalami pemenggalan silaba akhir atau apokop seperti pada
     Valerie yang menjadi Val, Florentin menjadi Flo, Kevin menjadi Kev, Nicolas menjadi Nico
                                               110
dll. Selain itu ada juga yang mengalami proses reduplikasi setelah apokop, seperti Coralie
   atau Corentin menjadi Coco; Jerôme atau Geoffrey menjadi Jeje; Julien atau Julie menjadi
   Juju, Yohan menjadi Yoyo; Laurence menjadi Lolo, dst. Atau setelah mengalami apokop
   diberi tambahan –ie, seperti Charles menjadi Charlie atau –ette yang memberi makna
   diminutif untuk mengungkapkan rasa sayang seperti Claire menjadi Clairette; Ada pula yang
   mengalami proses pemenggalan pada silaba awal atau aferesis kemudian direduplikasi
   misalnya Lio menjadi Yoyo dan Arnaud menjadi Nono.
4) Penggunaan Monsieur/Madame/Mademoiselle. Dalam bahasa Prancis panggilan
   penghormatan yang digunakan adalah Monsieur (M.) untuk laki-laki, Madame (Mme) untuk
   perempuan. Penggunaan Monsieur maupun Madame ini biasanya juga diikuti oleh nama
   belakang. Dalam beberapa kasus panggilan ini digunakan untuk merujuk pada status
   pernikahan lawan tutur. Terutama untuk perempuan, dikenal dengan panggilan Madame
   untuk yang menikah dan Mademoiselle (Mlle) untuk yang belum menikah. Misalnya Mme +
   nama belakang merujuk pada perempuan yang menikah dengan lelaki pemilik nama belakang
   tersebut. Seperti misalnya Madame Dubois, merujuk pada perempuan yang menikah dengan
   Monsieur Dubois. Sedangkan Mlle + nama belakang merujuk pada perempuan yang belum
   menikah yang merupakan anak dari lelaki pemilik nama belakang tersebut. Misalnya,
   Mademoiselle Dubois berarti anak perempuan dari M. Dubois.
   Uniknya dalam korpus yang penulis teliti tidak ditemukan penggunaan Monsieur, madame
   maupun mademoiselle yang diikuti oleh nama belakang melainkan Monsieur + nama depan
   (18) atau Madame + julukan (19), atau tidak diikuti oleh nama (20), (21), seperti pada contoh
   berikut :
   (18) AG : Waa!! Effectivement très beau                 ‘Komentar yang bagus, […]
                commentaire, […] MONSIEUR Vincent! Tuan Vincent’
   (19) MC : Ça manque de ponctuations, vraiment... ‘Kurang tanda baca, serius.
                 Mais sinon j'adore.                        Kalau tidak, saya pasti suka
         CBR : Madame pertinence                           ‘Nyonya EYD’
   (20) AP : Ok madame calma por favor                     ‘Oke, Nyonya… sabarlah’
   (21) LS : Oo non oO comment oser vous                   ‘tidak .. beraninya Anda
                dire cela mademoiselle !                    mengatakan hal itu Nona!
         LC : Mais monsieur je dis la simple               ‘Tapi tuan, saya hanya
                 veriter :p […]                             mengatakan kenyataan‘
   Penggunaan vokatif kategori ini hanya digunakan untuk bercanda, cenderung untuk saling
   mengolok-olok satu sama lain di kalangan penutur muda FB.
5) Nickname atau dengan menggunakan julukan. Pemberian julukan yang penulis temukan
   dalam korpus yaitu :
   1. Berdasarkan kategori gramatikal pembentuknya terdiri dari kata benda dan kata sifat.
        Biasanya diawali dengan posesif untuk orang pertama tunggal. Untuk kata benda misalnya
        (mon) prince, (mon) ange, (mon) con, (mon) salop, dan (mon) salaud. Sedangkan untuk
        kata sifat (ma) belle, (mon) gros dan (mon) grand.
                                              111
2. Berdasarkan cirri dan identitas lawan tutur ditemukan karakter fisik yaitu (ma) belle,
         (mon) gros.(mon) grand, (mon) petit, (ma) petite, dll.
     3. Menurut karakter pribadi atau yang bersfat non-fisik lawan tutur seperti, genius, (mon)
         salop, (mon) salaud, (mon) con, (mon) gland, dll
     4. Kategori penggunaan kata yang bersifat sosial, seperti belle ‘cantik’, genius ‘jenius’,
         prince ‘pangeran’, angel ‘malaikat’ yang bernilai sosial positif dan salop, gland, salaud,
         con, dll yang bersifat negatif karena rujukannya kepada ‘pelacur’. Walau demikian dalam
         penggunaannya penutur tidak bermaksud untuk merendahkan lawan tutur, melainkan
         vokatif tersebut digunakan untuk memperlihatkan keakraban antara penutur dan lawan
         tutur, terutama ketika ditambahkan dengan posesif orang pertama tunggal.
     5. Berdasarkan kelompok sosial seperti pada vokatif (Ma) petite parisienne ‘orang Parisku
         yang kecil’
6) Full account name atau penggunaan akun FB secara lengkap. Dalam FB pemilik sebuah akun
     bisa saja tidak menggunakan nama sebenarnya. Mereka biasanya membuat nama akun yang
     berbeda dengan nama mereka sebenarnya meski banyak juga yang tetap menggunakan nama
     mereka yang sebenarnya. Dalam percakapan FB, jarang terjadi komunikasi diadik. Biasanya
     terjadi percakapan yang saling silang oleh lebih dari dua orang, karena begitu banyaknya
     partisipan dalam percakapan. Untuk menandai lawan tutur biasanya digunakan fitur tag
     (menandai) yang disediakan oleh FB. Penggunaan tag dalam FB dimaksudkan untuk memberi
     label kepada akun tertentu. Awalnya proses tagging pada FB hanya disediakan untuk gambar
     yang diunggah, namun belakangan ini FB menambahkan fungsi fitur tersebut untuk menandai
     akun lain dalam percakapan. Fungsi menandai dari fitur tag ini kini menjadi fungsi vokatif,
     yaitu menentukan kepada siapa komentar atau ujaran ditujukan oleh penutur. Dalam
     percakapan FB letak vokatif dapat saja di awal ujaran (22) atau di akhir ujaran (23).
        (22) AP         : Celia Paolini pas trop déçut?             ‘Celia Paolini, tidak terlalu
                                                                    kecewa?’
        (23) LM         : Par contre je suis dégoûtée qu'il le      ‘Sebaliknya saya jijik dia
                          fasse pas Helene Marcaggi                 melakukan hal itu, Helene
                                                                    Marcaggi’
Berbeda dengan kategori sebelumnya, vokatif yang terakhir ini merupakan vokatif yang khas FB,
vokatif ini baik letaknya pada awal maupun pada akhir ujaran memiliki fungsi yang sama seperti
(a) menarik perhatian orang; (b) mengidentifikasikan seseorang sebagai lawan tutur; (c)
membangun dan memertahankan hubungan sosial (Biber dkk, 1999); bahkan vokatif ini juga
sering berfungsi (d) mengajak pengguna FB yang belum berkomentar untuk berpartisipasi dalam
percakapan tersebut.
Simpulan
Vokatif dalam percakapan FB tidak berbeda dengan vokatif dalam percakapan lisan. Dalam korpus
data ditemukan sekitar 9 kateogri vokatif yaitu ungkapan sayang, istilah kekerabatan, istilah
pergaulan, penggunaan nama depan secara lengkap, perubahan nama depan, panggilan
penghormatan, nama julukan, dan nama akun lengkap. Kategori yang terakhir merupakan kategori
                                               112
khas yang hanya ada dalam percakapan FB. Selain sebagai kategori yang khas, vokatif ini juga
memiliki fungsi yang berbeda dengan vokatif lain yaitu mengajak pengguna akun lain yang belum
berkomentar dalam percakapan untuk ikut berpartisipasi, baik dengan memberi komentar maupun
menunjukkan reaksi seperti suka, tertawa, sedih, dll.
        Kategori yang tidak ditemukan dalam korpus data adalah vokatif yang menunjukan
penghormatan (honorific), merujuk pekerjaan dan penggunaan gelar. Hal ini mungkin disebabkan
adanya kesetaraan hubungan antara para pengguna FB dalam korpus data yang diteliti. Sementara
alasan untuk tidak menggunakan istilah yang berhubungan dengan pekerjaan mungkin disebabkan
konteks yang ada dalam percakapan tersebut bukanlah konteks suasana yang mengharuskan
pengguna FB dalam korpus data menggunakan vokatif tersebut. Untuk lebih memastikan hal
tersebut diperlukan penelitian lain dengan korpus yang berbeda.

Daftar Pustaka
Biber, D., Johansson, S., Leech, G., Conrad, S., & Finnegan, E. (1999). Longman Grammar of
       spoken and written English. Harlow: Pearson Education.
Braun, F. (1988). Terms of address: problems of patterns ussage in various languages and
       cultures. Berlin, New York, Amsterdam: Mouton de Gruyter.
Junus, F. G., & Laksman-Huntley, M. (2016). Typical French Linguistic Process in Facebook. The
       Asia-Pacific Research in Social Sciences and Humanities. Depok.
Parpalea, M. (2011). The Functional Approach In German Linguistics. Transilvania , Vol. 4 (53)
       No.2., 115-122.
Schaden, G. (2010). Vocatives: A Note on Addressee-Management. 33rd Annual Penn Linguistic
       Colloquium (hal. 176-185). Pensnsylvania: Penn Libraries.
Wardaugh, R. (2010). An introduction to sociolinguistic. UK: Wiley-Blackwell.
Watt, H. J. (2010). How does the use of Modern Communication Technology Influence
       Language". Contemporary Issues in Science Communication and Disorders, hal. 144-148.
Zago, R. (2015). "That's none of your business, Shy" The pragmatics of vocatives in film dialogue.
       Dalam M. Dynel, & J. Chovanec, Participatiom in Public and Social Media Interactions
       (hal. 183 - 207). Amsterdam: John Benjamins Publishing Company.
Zwicky, A. (1974). Hey, What'syourname! Dalam M. La Galy, R. A. Fox, & A. Bruck, Papers
       from the Tenth Regional Meeting of the Chicago Linguistic Society (hal. 787-801).
       Chicago: Chicago Linguistics Society.

                                               113
Ideology in Tourism Discourse: A CDA Study

                                         I Nengah Laba
                           Sekolah Tinggi Pariwisata Bali Internasional
                                          laba@stpbi.ac.id

                                         I Wayan Pastika
                            Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
                                     wayanpastika@unud.ac.id

Abstract
This study examines tourism discourse in the national print media to answer a research question
of what ideology is found in tourism discourse. This study uses is a method of qualitative research
methodology. The approach in this study is a phenomenological approach using the phenomenon
of the use of language in national print media. The grand theories used in this research is the theory
of critical discourse analysis model proposed van Leeuwen (2005 ; 2008), and the conception of
ideology enumerated by Thompson (2004) with a supporting theory of Critical Discourse Analysis
proposed by Fairclough (1989; 1995). The research result of this found that there is no symmetrical
relationship among investors and local people who are dominated by the capitalist character. This
fact shows the ideology that developed in tourism discourse is the ideology of capitalism. The
conception and empirical findings show that the distribution of tourism discourse is very dynamic.
Key words: critical discourse, ideology, and tourism

1. Introduction
The tourism development affects the language dynamically. This can be seen from the intersection
between languages in tourism which has become a central phenomenon in post-modern society
(cf., Fox, 2008: 13-15). It proves that the growth of tourism does not only affect the economic,
socio-cultural and natural environment, but also the use of language. As an integrated system of
representation, language is also a core medium for the tourism community and media institutions

                                                 114
for producing the text and discourses. In relation to this, mass media are likely a struggle area of
any interest which can be implemented in the use of various discourse strategies. According to van
Leeuwen and Machin (2007: 60-61), the discourse can also transform social praxis through various
elements and contexts of interest. It means, the discourse in media will be able to affect the
construction and social reality in the middle of society.
      Texts in printed media are the result of a discourse process that contains the values of
representation, domination and ideology. The media will include perspectives from their point of
views in explaining social reality. To find out how the printed media involves its views, the use of
language as an important element is to be observed. With regard to this, lingual constructions in
the form of words, phrases, sentences or specific expressions on tourism discourse have to be
analysed. It is assumed that the choice has been made to have a certain perspective, a certain
agenda and ideology, for example, in the sentence: "alih fungsi lahan produktif untuk pariwisata
sudah pada tingkat mengkhawatirkan". This sentence shows that there is a land conversion by
displaying the objects of tourism without indicating who is responsible for the land conversion.
Ideology behind the text will affect the forms of various discourses. Discourse with capitalism or
socialism ideology will produce a discourse with their characters. From this explanation, we can
understand that critical discourse analysis will put the language in opening system based on their
contexts. The analysis will always reveal on how the text is produced and reproduced.
      The relationship among media, discourse and ideology can be described as follows.

   Media Institution                    Media Texts                   Audience (society)

   Dominant Entity                Dominating Expressions              Domination Target

                             LINGUAL CONSTRUCTION

Representation                         Social Reality                     Social Contruction

                                                115
Figure 1. Relationship between media, discourse and ideology (Source: Burton, 2012:75
                                        modified by researcher)

The figure above describes that the representation of the interests of a person or group requires
media institutions and all instrument operations in order to open up the space in the discourse.
Ideology will show the effects related to the attitudes and behavior of the audience as the cause of
social construction that will affect social reality and need a space to represent itself. In this context,
critical discourse analysis can be used as a framework to explore the representations and forms of
domination in social life and the meaning can be seen through the lingual construction which has
appeared in various discourse strategies used (van Leeuwen, 2005: 95). In connection with these
issues, further study is conducted to explore discourse strategy and ideology in tourism discourse
on the national printed media.

2. Literature Review, Concept, and Theoretical Framework
2.1 Literature review
The main focus in conducting literature review is on how the researcher acquired the information
in the form of theories used in this research, data, methodology and findings, with their strengths
and weaknesses based on the concepts and approaches to get the relevance of this research. The
literature review which is described in this study consists of three parts, namely: (1) textbooks that
contribute to the framework in this study; (2) similar previous research, with relevant methodology
and theoretical frameworks that support this study; and (3) The object of the research, that is
tourism discourse.      A work of Ling Ip (2008) entitled Analyzing Tourism Discourse: A Case
Study of Hongkong Travel Brochure. This study reviewed about parts of tourism discourse in
destination brochures in Hongkong. He reviewed the language used from micro to macro
linguistics and the visual elements in those brochures and also the factors effecting interpretation
of tourism discourse; A study by Thurlow and Jworski (2011) entitled Tourism Discourse:
Language and Banal Globalization. This study explained about 1) tourism discourse in
globalization, 2) the role of language and communication in tourism, 3) an understanding of the

                                                   116
language in globalization or a post industrial era (especially in tourism), 4) the circulation of
linguistics material such as genre and language style and 5) how the local language are
commodificated in tourism communication as stated by Bourdieu (1991) and Irvine (1989).
Rahimi and Riasati (2011) explained the combination of Critical Discourse Analysis in
synchronizing critical discourse analysis as the effects of certain ideology. The title of their study
is “Critical Discourse Analysis: Scrutinizing Ideologically-Driven Discourses” which was
published in the International Journal of Humanities and Social Sciences. This study combined
critical discourse analysis approach by van Leeuwen, van Dijk, Hodge and Kress and Fairclough
models and concluded that critical discourse analysis is a multidiscipline approach to analyze texts
or conversations to get an intrinsic agenda behind domination in social life.
      Kheirabadi and Moghaddam (2012) did a research of linguistics on international mass media
using discourse analysis approach entitled “The Linguistic Representation of Iranian and Western
Actors of Iran’s Nuclear Program in International Media: A CDA Study. This research used
discourse analysis approach of Fairclough (2001) and van Leeuwen (2008) models about social
actors to review news and international articles that tell about the Iranian nuclear program. The
source of data in this research taken from 50 news and articles of the international media including
Agance France Press, Bloomberd, The Wall Street Journal, The Associated Press, The New York
Times, The Washington Post, Reuters, and BBC News published in November – December 2010.
In this study, Khierabadi and Moghhadam review the neutralization of printed media in giving
information about the Iranian nuclear program from a linguistics point of view with discourse
analysis approach of van Leeuwen model.

2.2 Theoretical Framework
To analyze the phenomena in this study explicitly, the researcher used some relevant theories.
Those theories are 1) critical discourse analysis theory; 2) critical discourse analysis theory of van
Leeuwen model with exclusion and inclusion strategy approach; 2) lingual representation theory
by Burton (2012) who stated that lingual representation on mass media works with two ways
through determination and functionalism; 3) lingual domination theory by Burton (2008) who said
mass media through lingual displayed has power to do construction and reconstruction of social
reality; 4) ideology theory by Thompson (2003) who stated that ideology refers to description and
process of asymmetrical power relation. According to Mayr (2008), a discourse is started from

                                                 117
social analysis by Foucault (1977), lead to critical linguistics by Fowler, et al (1979), and critical
discourse analysis pioneered by Van Dijk (1990). Mayr explained the definition of discourse can
be seen from two different perspectives, which are structuralism and functionalism. The
structuralism views the discourse as the use of language especially of clauses and sentences that
focus on how the structure of a text is framed as a whole and reflected in cohesion and coherence
(cf. Halliday and Hasan, 1987:21-23; Halliday, 1994:129). Structuralism does not focus on social
aspects which provide information about how people use and interpret the language. Meanwhile,
the functionalist views discourse as a form of "language in use" which cannot be separated from
the purpose and function of language as a means of communication in social praxis. Discourse, for
the functionalist, is seen as a way of how language is used in social practices. In other words,
language is able to represent the social realities while contributing to the construction of reality.
      Critical discourse analysis uses textual language to be analyzed. It means that the language
is used for the purpose and specific practices, including the practice of social construction.
Undersatnding the works of van Dijk, Fairclough, Sara Mills, Wodak, and van Leuween (cf.
Eriyanto, 2001: 8-13), there are a number of critical discourse analysis characteristics can be
formulated. For example, the discourse is seen as an act in form of interaction. That is, the
discourse is placed in an open space, instead not only for the internal and the underlying
assumption. This statement provides two implications, namely a) the discourse is seen as
something that has a specific purpose. For example, the aims are to influence, persuade, or
contradict someone and/or something. Someone who speaks or writes always has a goal and
something that is revealed surely also has its own objectives; b) discourse is understood as
something that is expressed consciously controlled, not something that is out of control or
expressed outside of awareness. Van Leeuwen introduced a model in discourse analysis.
Regarding the discourse, van Leeuwen (2005:94) said that: "The term" discourse "is often used to
denote an extended stretch of connected speech or writing, a" text "."Discourse analysis" then
means "the analysis of an extended text, or type of text". "
      Critical discourse analysis model of van Leeuwen shows how the parties and actors are
displayed in a discourse. In his opinion, there are two points of focus. First, the process of exclusion
in a text whether there is a group or actor issued in the discourse. The second is a process of
inclusion. This process is the opposite of the process of exclusion. This process relates to the
question of how a person or group of actors in an event is included or represented in a discourse.
                                                  118
By using the word, phrase, sentence information or the composition of certain linguistic forms,
each party and group are represented using texts in a discourse.

3. Research Method
The method used in this study was descriptive qualitative research using systematic writing of
theory and then data observation continued with triangulation (Bungin, 2008: 23-24). Descriptive
is used to present information accurately. This study contains excerpts such data to illustrate the
presentation of the report. Because it is related to lexical use and linguistic aspects in tourism
discourse, the description is very important. To reveal the context of language used in tourism
discourse, this study has two main approaches. First, according to qualitative research paradigm,
the researcher is a planner, data collector, analysts, interpreter and reporter of research findings
(Moleong, 2011: 168). Second, this research focuses on research object of language used in
national printed media. Corpus linguistic datain this study is in form of lexical, phrase, and clauses
existing in Bali Post, Kompas and Nusa Bali (cf. Baker, 2010: 93 -95; Bednarek, 2006: 5-6).
According to the critical paradigm, the task of the researchers is to interpret, explore, discover and
explain the reality captured in the production and reproduction of a text in tourism discourse.

4. Discussion
4.1 Discourse Strategy
The objective analysis of the implementation of discourse strategy is to find the hidden perspective
in the text. The implementation of discourse strategy proposed by van Leeuwen (2005; 2008)
showed how the parties and actors (individual or group) are displayed in a discourse. The model
of critical discourse analysis developed by van Leeuwen focused on two main points, namely the
process of exclusion and inclusion. Passivation strategy is a strategy that is used to hide social
actors from the text. The analysis process on the part of this strategy will be used as elaboration of
van Leeuwen approach (2008) with the structure of the text raised by van Dijk with three text
structures which covers the macro structure, superstructure and microstructure. This discussion
only focused on the microstructure, namely (1) the level of semantics, the search for meaning is
behind the passivation strategy; (2) the level of syntax, how the structure of clauses and sentences
used in discourse strategy; (3) the level of stylistic or lexicon described the actors involved; and
(4) the level of rhetoric, how the rhetoric performed using discourse strategy to hide the actor who
should be responsible in an event. Passivation strategy is one of the strategies taken to hide the
                                              119
social actors in the text. The discourse strategy in the form of passivation strategy is shown in the
sentence structure in the data 1. It is, “Kawasan elite pariwisata dibayangi kemiskinan”. Data (1)
can be analyzed syntactically. At the level of syntax, the formation of sentence structure,
“Kawasan elite pariwisata dibayangi kemiskinan” consists of a passive verb phrase, namely
"dibayangi kemiskinan" combined with noun phrase, “kawasan elite” linguistically it acts as an
agent. When it is examined closely at the level of Indonesian verbs which recognize the existence
of two suffixes of verbs, {-i} and {-kan} attached to adjectives and nouns (base form). Associated
with the data (1), "bayang" is categorized as base form. It is a bound morpheme. Having clung by
suffix {-i}, it is then formed a transitive verb. The verb, “bayang” can be changed into active or
passive diathesis such as “membayangi” and “dibayangi”. Analyzing the meaning of suffix {-i}
for the above data, it has the meaning of ‘mendapat’. In this context, the verb argument, kawasan
elite pariwisata gets shadow of bayang kemiskinan. In terms of thematic roles, verb overshadow
specifies two arguments, namely the elite area of tourism and poverty. Referring to the conception
of semantic macro role and syntactic criteria, the data is classified into passive voice which
indicated by a passive marker {di-} on the verb. In this particular sense, passive voice is
categorized as fixed in time or noneventive. The use of a passive voice affects the negligence of
the actor as oblique in reference to van Leeuwen theory (2005; 2008), the social actor is excluded
from the discourse.
      Referring to the theoretical discourse strategy proposed by van Leeuwen, the data (1) above
contains a passivation strategy elements indicated by clause, “dibayangi kemiskinan”. Through
this passivation strategy, the audience was led to see the other side of the the tourism elite area
management. It is “kemiskinan”. Based on the characteristics of “kawasan elite”, every individual
who live in the area should get splattered prosperity. However, there are some groups of people
who are neglected from luxury tourism practice in the area. According to van Leeuwen (2008),
passivation strategy is used to hide the actors who are supposed to be responsible for the shadows
of poverty in the elite area of tourism. In this strategy the actor can be hidden or deliberately hidden
through a strategy of exclusion in the form of a passivation strategy. Selection of such passive
sentence is caused by the target of an attempt to hide the actors and media includes a lexicon of
'kemiskinan' as opposed to the proposition shaped phrase “kawasan elite” so the audiences are
more interested in reading the news. The media has also economic targets to increase newspaper
circulation sales. Both of these targets are the steps in selecting an argument with a passive verb
                                                  120
category. Lexical items, “dibayangi’ characterized the first and foremost step in view of exclusion
discourse strategy. Through the passive voice, the actor can be eliminated in the discourse which
is not that possible in the active sentence structure.

4.2 Ideology in Tourism Discourse
In the discourse practice, Thompson (2003) stated that ideology as a practice works in the daily
life and the meaning could be disseminated to retain the power. In line with this, Fairclough
(1995b) found in cultural studies and communication, a text is created in the process of
interpretation. This means that the text that appears in the media can have a potential consensus of
meaning that is open to several different interpretations. The basic principle used in critical
discourse analysis to examine how the ideology behind the discourse is how discourse practice
reflects and contributes to the social and cultural changes. Local ideology which is put implicitly
in a cultural tourism concept stipulated in ‘Bali Regional Regulation1 is an ideal form of how
tourism in Bali is expected to rely on local ideology and spirit. In this context, ideology is seen as
a social contract between Balinese people through the cultural domain with investors who invest
in the tourism industry. It shows the ideology assumed as a form of a convention between the
people of Bali with investors so that the people of Bali received the false consciousness that the
movement of tourism in Bali is already referring to the local culture. Consciousness is in line with
Karl Marx’s view (1818-1883) and Friedrich Engels (1820-1895) in Sobur (2009: 64-65) about
the veil of consciousness or thoughts that cover the face authenticity. The legitimacy of the class
role has the power to implement the ideas and ideology through control of the transfer of the forces
of production, distribution, and information through the means of language. Control of ideas and
information is done through the text used in the tourism discourse. In the discourse practice,
Thompson (2003) states that ideology as a practice operates in the production of meaning in
everyday life and the meaning can be disseminated to retain power. In line with this, Fairclough
(1995b) states that in cultural studies and communication, text created in the process of
interpretation. The basic principle used in critical discourse analysis is to examine the ideology
behind the discourse and how the discourse practice reflects and contributes to the social and
cultural changes. Local ideology implied in the concept of cultural tourism as stipulated in the Bali
provincial regulations is an ideal form of tourism in Bali is expected to rely on the ideology and
the local spirit. The phrase in data (2) “Pariwisata yang digerakkan oleh investor yang kental

                                                 121
dengan watak kapitalismenya dan didukung kebijakan yang pragmatis, menjadikan penduduk
lokal semakin termarginalkan.” describes the reflections of tourism in Bali as a reflection of
national tourism in Indonesia. The construction and development of tourism in Bali are
standardized to the needs of capitalism which emphasizes on pragmatic needs and siding to the
investors. The ideology of capitalism in tourism discourse represented into social reality which in
this case is represented by elements such lingual “watak kapitalisme and kebijakan pragmatis”,
and the local community are constantly marginalized depicted in the discourse of; “....oleh
investor yang kental dengan watak kapitalismenya dan didukung kebijakan yang pragmatis,
menjadikan penduduk lokal semakin termarginalkan.” in which in accordance to the ideology
theory proposed by Thomson (2003), this is so called unsymmetrical relationship in the society.

5. Conclusion and Suggestion
From the discussion in the previous chapter, it can be concluded that the various strategies of
exclusion and inclusion used in the news or popular scientific articles related to tourism discourse.
The choice of various discourse strategies above were influenced by meaning given of something
which was highlighted or otherwise whether there was someone or something to be marginalized
and excluded from the discourse. The research result of this found that there is no symmetrical
relationship among investors and local people who are dominated by the capitalist character. This
fact shows the ideology that developed in tourism discourse is the ideology of capitalism. The
conception and empirical findings show that the distribution of tourism discourse is dynamic and
is distributed top-down. A study of linguistics combined with a tourism theme in the perspective
of critical discourse analysis approach is also associated with other social sciences, including
ideological conception. In connection with this, this study still need further study with different
approaches and the application theory to have the research result more comprehensive.

                                                122
Daftar Pustaka
Baker, P. (2010). Corpus Methods in Linguistics. Dalam Litosseliti, L (ed). Research Methods in
        Linguistics. London: Continuum International Publishing Group.
Barker, C. and Galasinski, D. (2001). Cultural Studies and Discourse Analysis: A Dialogue on
        Language and Identity. London : SAGE Publications Ltd.
Benarek, D. (2006). Evaluation in Media discourse: Analysis of a Newspaper Corpus. London:
        Continuum.
Bestari, T.R., Artawan, G., Yasa, I N. (2014). “Pemberitaan Gubernur Bali, Mangku Pastika,
        dalam Surat Kabar Bali Post: Analisis Strategi Eksklusi-Inklusi Theo van Leeuwen. e-
        Journal Universitas Pendidikan Ganesha, JPBSI, Vol: 2 No. 1 Tahun 2014.
Bungin, H.M.B. (2008). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.
Burton, G. (2002). More Than Meets the Eye. An Introduction to Media Studies. Third Edition.
        London: Oxford Univeristy Press, Inc.
Burton, G. (2008). Yang Tersembunyi di Balik Media. Pengantar kepada Kajian Media. (Alfathri
        Adlin, Pentj.) Yogyakarta: Jalasutra.
Burton, G. (2010). Media & Society. 2nd Edition. New York: Open University Press.
Burton, G. (2012). Media dan Budaya Populer. (Hodder Arnold, Pentj.) Yogyakarta: Jalasutra.
Bustam, M.R., Heriyanto, Citraresmana, E. (2013). “The Exclusion Strategies of the
        Representation of Social Actors in the Case of FPI’s Rejection to Lady Gaga’s Performance
        in Indonesia on the Jakarta Post Newspaper Headlines (A CDA Approach)”. International
        Journal of Language Learning and Applied Linguistics World. Vol. 4 No. 3 November
        2013, pp 33-49.
Eriyanto. (2001). Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS.
Fairclough, N. (1989). Language and Power. Harlow-Essex: Longman Group Limited.
Fairclough, N. (1995). Critical Discourse Analysis. The Critical Study of Language. Harlow-
        Essex: Longman Group Limited.
Fox, R. (2008). “English in Tourism: A Sociolinguistic
             Perspective”, Tourism and Hospitality Management, An International Journal of
             Multidisiplinary Research for South-Eastern Europe, Vol. 12, No. 1, 2008.
Hallet, Richard W. and Weinger, J.K. (2009). Official Tourism Websites: A Discourse Analytic
        Perspective. Chicago: IL.
Halliday, M.A.K. and Hasan, R. (1987). Cohesion in English. New York : Longman, Inc.
Halliday, M.A.K. (1994). Language as Social Semiotic: The Social Interpretation of Language
        and Meaning. New York: Routledge.
Kheirabadi, R. dan Moghaddam, S.B.A. (2012). “The Linguistic Representation of Iranian and
        Westren Actors of Iran’s Nuclear Program in International Media: A CDA Study. Theory
        and Practice in Language Studies, Vol. 2, No. 10, pp 2183-2188, October 2012. Finland:
        Academy Publisher.
Ling Ip, J.Y. (2008). Analyzing Tourism Discourse: A Case Study of Hong Kong Travel Brochure.
        LCOM Papers Vol. 1 p. 1 – 19. Hongkong : the University of Hongkong.
                                              123
You can also read